KEBHINEKAAN DI PURA MANDIRI SETA DI SURAKARTA: Gambaran Identitas Lokal Dalam Budaya Global
Oleh : DRA. SULANDJARI, M.A.
dibuat pada : 2020
Fakultas/Jurusan : Fakultas Ilmu Budaya/Sarjana Ilmu Sejarah
Kata Kunci :
Kata kunci : kebhinekaan, kejawen, konteks global, pendidikan Hindu, tradisi lokal
Abstrak : Abstrak KEBHINEKAAN DI PURA MANDIRI SETA DI SURAKARTA : Gambaran Identitas Lokal Dalam Budaya Global Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap perjalanan sejarah lembaga pendidikan spiritual Hindu di Pura Mandiri Seta di Surakarta. Kebinekaan yang termanifestasi dalam bentuk dan nilai spiritual di pura ini menjadi karakter unik dari aspek etnis, budaya dan agama. Perkembangan Hindu di Surakarta diawali dengan pernyataan penganut kejawen di wilayah itu untuk memeluk Agama Hindu melalui upacara Sudiwadani, tahun 1968. Sebagai wadah kegiatan budaya spiritual umat ketua masyarakat kejawen/ Hindu Jawa RW Hardjanta Pradjapangarsa , mendirikan Pura Mandira Seta di keraton Baluwarti Surakarta.Yoga sebagai salah satu bagian dari pendidikan spiritual Hindu, menjadi aktifitas penting di tempat itu. Karakter Hindu Jawa kemudian dikolaborasikan dengan wawasan dan spirit kebangsaan nasional Tidak hanya umat Hindu, tetapi umat lain dari mancanegara aktif mengikuti kegiatan di pura ini. Yayasan Sadharmapan ( Sanatadharma Majapahit dan Pancasila ) menjadi badan penyelenggara kegiatan pendidikan di pura ini.Ciri bhineka dari tempat suci ini , antara lain terlihat dari kebebasan dalam mengenakan pakaian adat, penempatan miniatur tokoh besar agama dunia . Semangat kebersamaan di lingkungan pura ini menjadikan Mandiri Seta sebagai tempat pemujaan penting di wilayah kota Surakarta. Hal ini memberi kontribusi yang cukup besar bagi eksistensi, bahkan pengembangan pura ini hingga sekarang mampu mentransformasikan tradisi Hindu Jawa melalui konteks kebhinekaan. Permasalahan yang timbul adalah: (1). Apa yang melatarbelakangi berdirinya Pura Mandidi Seta dan bagaimana ajaran Hindu Jawa memaknai kebhinekaan ? (2). Sejauh mana pengaruh budaya Jawa /keraton bagi perkembangan pendidikan Hindu ? (3). Mengapa pura ini tetap eksis dan mampu mengembangkan diridi lingkungan sosial non Hindu ? Permasalahan ini akan dijawab melalui pendekatan dan metode sejarah, disertai analisis data yang diperoleh dari studi kepustakaan, wawancara mendalam dan FGD dengan tokoh-tokoh terkait di Surakarta dan Bali.