EFEKTIVITAS TEKNIK LOW FLOW DIBANDINGKAN HIGH FLOW DALAM MENEKAN KEJADIAN AGITASI PASCAANESTESI PADA PASIEN PEDIATRI USIA 6 BULAN SAMPAI DENGAN 6 TAHUN DI RSUP SANGLAH DENPASAR


Oleh : dr. Andrian Yadikusumo
dibuat pada : 2018
Fakultas/Jurusan : Fakultas Kedokteran/PS. ANESTESIOLOGI DAN REANIMASI

Kata Kunci :
Kata kunci: Kejadian agitasi pascaanestesi, low flow anestesi, sevofluran, pediatri, PAED skor.

Abstrak :
Pendahuluan: Agitasi pascaanestesi merupakan salah satu permasalahan pasien pediatri (Mason, 2001). Agitasi pascaanestesi didefinisikan sebagai terdisosiasinya tingkat kesadaran. Sevofluran merupakan volatile anestesi umum yang sering digunakan pada pediatric dan menyebabkan terjadinya agitasi pascaoperasi. Low Flow Anestesi (LFA) adalah teknik anestesi dengan aliran gas sebesar 500 ml per menit. Studi sebelumnya didapatkan perbedaan kejadian agitasi dalam proses wash out sevofluran (Yang dkk., 2015). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya perbedaan kejadian agitasi pada teknik low flow vs high flow anestesi pada pasien pediatri, mengetahui efektivitas teknik high flow dan low flow anestesi terhadap kejadian agitasi, dan mengetahui faktor risiko yang paling berperan terhadap kejadian agitasi. Bahan dan Metode: Enam puluh pasien pediatri usia 6 bulan sampai 6 tahun menjalani operasi minor abdomen dimasukkan kedalam 2 kelompok secara consecutive sampling. Kelompok kontrol diberikan anestesi umum dengan laju gas pemeliharaan 5 liter permenit, dan kelompok pajanan diberikan anestesi umum degan laju gas sebesar 500 ml permenit. Pengukuran dilakukan setelah operasi selesai pada variabel skor nyeri menggunakan FLACC, dan kejadian agitasi menggunakan skor PAED yang dikelompokkan menjadi agitasi dengan skor PAED ≥ 10, dan tidak agitasi dengan skor PAED < 10. Dilakukan analisis menggunakan Uji Chi Square dalam krostabulasi untuk menentukan risiko relatif, dan Preventable Fraction, dan data yang tidak berdistribusi normal dengan uji mann whitney. Selanjutnya, dilakukan uji Cox Regresion untuk meilai factor risiko yang paling berperan pada penelitian ini. Hasil: Kejadian agitasi pada kelompok high flow lebih besar dibandingkan dengan kelompok low flow dengan nilai p <0.001 (70% vs 6%). Risiko Relatif pada penelitian ini sebesar 3.1, dengan preventable fraction sebesar 67%. Teknik high flow merupakan factor risiko tunggal dengan perubahan teknik anetsesi menjadi low flow, kejadian agitasi dpaat ditekan 90.2%. Simpulan: Didapatkan perbedaan bermakna pada kejadian agitasi, dengan kejadian agitasi pada low flow anestesi lebih rendah daripada high flow anestesi. Efektivitas low flow anestesi adalah sebesar 67% dalam menurunkan kejadian agitasi. High flow anestesi dengan merupakan faktor risiko tunggal terhadap kejadian agitasi pascaaanestesi, dan dengan perubahan menjadi teknik anestesi low flow anestesi, kejadian agitasi dapat dicegah sebesar 90.2%

File :
Cover , Lembar Pengesahan , Daftar Isi, Abstrak, BAB I , BAB II , BAB III , BAB IV , BAB V , Daftar Pustaka , Halaman belakang lainnya